Kebijakan Pemerintah yang akhir-akhir ini kerap kali dirasa meresahkan oleh sejumlah lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa. mahasiswa yang mengembang tugas agent of change merasa perlu memperjuangkan hak-hak masyarakat yang seakan-akan tertindas oleh kebijakan-kebijakan yang berkedok pahlawan. Suara mahasiswa bergema dimana-mana, namun mereka (pemerintah) seakan-akan sengaja menutup telinga,
Mereka hanya berdali bahwa hanya mereka lah yang benar, telinga dan mata mereka telah dirusak oleh data-data yang mereka anggap benar, data-data yang memberikan mereka harapan, dan dengan data-data itu mereka menganggap merekalah yang paling benar. Tapi realita tak berbicara tentang data-data, data-data mampu untuk direkaya namun realita tidak. data-data mungkin mampu membohongi masyarakat namun realita tidak. masyarakat menegah kebawah semakin kebawah sementara yang diatas semakin keatas, masyarakat semakin terpuruk, masyarakat tersiksa, namun mereka (pemerintah) tetap percaya bahwa data-data sesat mereka mampu menyelamatkan.
Hal tersebut kemudian membuat mahasiswa tak bisa mendiamkan hal tersebut, mereka merasa perlu untuk menyembuhkan mata dan telinga pemerintah yang telah dirusak oleh data-data sesat mereka. Demonstrasi dilakukan, teriakan demi teriakan disuarakan, namun suara mereka seakan tak berbunyi, suara mereka seperti angin yang berlalu begitu saja, Hal ini membuat mahasiswa geram, jika suara tak dapat menyembuhkan mata dan telinga mereka mungkin mereka perlu sedikit dikasari, namun pemerintah seakan sudah terhipnotis aleh data-data sesat mereka tetap merasa mereka lah yang paling benar, mereka melawan, antek-antek (polisi) mereka diturunkan untuk membendung mahasiswa maka tak heran jika dalam aksi demonstrasi mahasiswa banyak batu yang melayang, banyak kaca-kaca yang pecah, banyak asap yang timbul akibat dari bakaran-bakaran ban yang mereka sebut sebagai tindak anarkisme.
Namun ternyata apa yang dilakukan oleh mahasiswa tidak serta merta membuat masyarakat yang mereka bela menjadi senang, bahkan sebaliknya ketika mahasiswa melakukan demonstrsi menyuarakan suara-suara rakyat yang bahkan katanya adalah suara tuhan masyarakat malah memandang mahasiswa dengan mata sinis, dan tak jarang ketika mahasiswa mulai mengasari antek-antek pemerintah dengan lemparan batu balasan yang diterima malah lemparan batu dari masyarakat, seakan-akan mahasiswa dihianati, mahasiswa ditusuk dari belakang oleh masyarakat yang hak-hanya di pejuangkan, masyarakat tak suka dengan kebijakan pemerintah tapi yang mereka lawan adalah mahasiswa, mahasiswa memperjuangkan masyarakat tapi masyarakat malah membela pemerintah.
Mungkin mahasiswa salah dengan tindakan-tidakan yang dikatakan sebagai tindak anarkisme, namun itulah cara terbaik saat ini untuk membuat pemerintah tersadar, mahasiswa berjuang dan perjuangan membutuhkan pengerbonan, masyarakat seharusnya memberikan dukungan bukan malah melawan, kalau sudah seperti ini siapa melawan siapa? siapa membela siapa? haruskah mahasiswa berhenti menyuarakan suara-suara rakyat? haruskah mahasiswa hanya menjadi kaum akademisi tanpa bisa mengkritik kejahatan yang menyengsarakan? atau kah mungkin memang ini yang di inginkan pemerintah? Entahlah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar